Read Letters of a Javanese Princess by Raden Adjeng Kartini Agnes Louise Symmers Online

letters-of-a-javanese-princess

Translated From The Original Dutch By Agnes Louise Symmers With A Foreword By Louis Couperus.Through these letters, written between 1899 and 1904, the compassion, growth, humility, and pride of a young Indonesian woman, Raden Adjeng Kartini, reach out for the reader to embrace and hold dear....

Title : Letters of a Javanese Princess
Author :
Rating :
ISBN : 9781417951055
Format Type : Paperback
Number of Pages : 328 Pages
Status : Available For Download
Last checked : 21 Minutes ago!

Letters of a Javanese Princess Reviews

  • erry
    2019-05-16 02:22

    " Tiada awan di langit yang tetap selamanya. Tiada mungkin akan terus-menerus terang cuaca. sehabis malam gelap gulita lahir pagi membawa keindahan. kehidupan manusia serupa alam” (Kartini - Habis Gelap Terbitlah Terang)“Wanita dijajah pria sejak dulu. Dijadikan perhiasan sangkar madu.”Itu adalah sebuah kutipan dari sebuah lagu lama. Sebelumnya saya ingin jelaskan kalau saya tidak sudi menggunakan istilah wanita karena artinya yang merendahkan. Wanita berasal dari kata: wani = orang; toto = hias; yang artinya orang yang dihias, hiasan. Sedangkan perempuan memiliki makna yang jauh lebih menghormatkan. Perempuan dari kata empu = pemilik. Jadi wanita adalah pemilik, yang dihormati. Jadi untuk selanjutnya hanya akan ada kata perempuan .Perempuan, sejak jaman dahulu kala sudah teraniaya. Entah itu di era Mesopotamia, Yunani maupun Timur Tengah. Baik itu Gadis pantai, Kartini hingga Siti Nurbaya. Perempuan dianggap sebagai makhluk yang lemah dan dilemahkan. Tak berdaya dan dibuat tak berdaya oleh system, adat dan kebudayaan. Apalagi, di era feodalisme Jawa, peran perempuan didomestikan. Peran perempuan hanyalah berkisar pada tiga hal : kasur, dapur dan sumur. Perempuan tak boleh berpendidikan. Tak berhak meraih kebebasan. Tujuan hidup perempuan jawa di masa feodal hanya satu: Kawin dan selanjutnya menjadi mesin reproduksi untuk meneruskan garis keturunan dan hegemoni laki-laki. Bahkan yang lebih parah, terkadang perempuan hanya dijadikan objek dan pemuas nafsu dan ego laki-laki. Perempuan dianggap patung yang tak punya perasaan. Dia harus merelakan suaminya memadu dirinya, hingga 2,3,4 bahkan lebih. Dia harus menahan sedihnya ketika harus hidup seatap dengan para madunya. Perempuan yang datang belakangan pun tak kalah menderitanya. Dia harus mau untuk menjadi istri kesekian dari seorang laki-laki yang entah sdh punya berapa istri. Setiap tgl 21 April diperingati sebagai hari Kartini. Tanpa tahu secara detail kenapa? Dan mengapa Kartini? Yang diajarkan saat pelajaran sejarah sejak esde hanya kalau tentang lahir, hidup dan matinya saja, secara garis besar. “Habis Gelap Terbitlah Terang” yang merupakan kumpulan surat-surat kartini kepada para sahabatnya memang sering sekali disebutkan. Tetapi, sampai sebelum hari ini, saya tidak pernah tahu apa isinya. Lagi-lagi kelemahan kurikulum pendidikan di Indonesia. Hanya mengajarkan kulitnya saja.Akan tetapi terlepas dari itu, sosok Kartini adalah sosok yang dijadikan lambang perjuangan perempuan. Yang oleh masa sekarang digembar-gemborkan sebagai gerakan emansipasi perempuan. Satu pertanyaan menggelitik “kenapa Kartini?” padahal pada masa yang tidak terlalu jauh, juga sudah ada beberapa perempuan yang tercerahkan dan mau memperjuangkan nasib kaumnya. Sudah ada juga perempuan yang memulai pendobrakan. Tokoh Dewi Sartika misalnya. Bahkah, sosok yang satu ini tidak hanya menuangkan cita-cita dan mimpinya ke dalam kata-kata. Akan tetapi beliau sudah pada tataran riil. Beliau mendirikan sekolah sendiri untuk kaumnya. Lantas kenapa Kartini yang dijadikan icon perjuangan kaum perempuan? Tanpa bermaksud membanding-bandingkan atau menafikkan peran yang satu terhadap yang lain. Karena kedua tokoh ini berbeda tetapi tak sama. Sama, tetapi berbeda. Dan keduanya tidak dapat dibandingkan, karena keduanya sama berjasanya. Dengan cara berbeda.Kembali kepada Kartini, dalam tulisan-tulisannya tertera pikirannya, semangatnya, cita-citanya dan mimpinya untuk memajukan peran dan derajat kaumnya. Berangkat dari apa yang ia lihat dilingkungannya, Kartini mencoba mendobrak pakem-pakem baku dari adat istiadat Jawa. Kartini yang lahir dari keluarga bangsawan Jawa yang memegang teguh adatnya. Di tengah konflik internal yang muncul dalam dirinya, Kartini coba untuk memberontak. Pada fase-fase awal surat-suratnya, terlihat semangat muda seorang Kartini. Semangat untuk maju, sekolah, memperoleh pendidikan dan setara dengan kaum lelaki. Pada fase-fase awal, Kartini terkesan terlalu memuja Eropa dan membenci budaya, adat dan agama yang dianut masyarakat Jawa. Yang menurutnya mengukung dan mengekang. Buat Kartini muda, Eropa adalah segalanya. Baru pada fase selanjutnya ia baru mulai berpikir lebih dewasa dan realistis. tiba2 teringat pada minke di tetralogi buru yg hdp di masa yg hampir sama dgn Kartini. sama-sama berasal dari keluarga bangsawan. sama2 ketika muda mengagungkan Eropa. baru membumi setelahnya. apakah ini memang jadi tren kaum muda bangsawan terpelajar di masa itu ya?Karena tulisan ini adalah kumpulan surat, isinya lebih bersifat subyektif dan personal. Seringkali Kartini memiliki konflik di dalam dirinya. Pertarungan antara mimpi dan cintanya kepada orang tua. Hingga akhirnya ia memilih untuk mengabaikan mimpinya sekolah di negeri Belanda. Membaca buku ini, membuatku mengerti sulitnya jadi seorang Kartini. Seseorang yang bermimpi setinggi langit, tetapi terkungkung adat dan tradisi. Butuh tekad dan keberanian besar untuk mendobrak system yang telah ada dan membudaya. Walaupun Kartini tidak pernah secara nyata menjadi seorang “pemberontak”. Tetapi pada masanya, sikapnya yang ia curahkan lewat tulisan-tulisannya sudah merupakan sebuah pemberontakan. Kartini yang berasal dari keluarga bangsawan memang menjadi salah satu kelebihannya – kenapa ia begitu dikenal orang-. Karena berasal dari keluarga bangsawan majulah, ia bisa memiliki kesempatan untuk belajar. Karena asal usulnyalah ia punya kesempatan belajar bahasa belanda, yang akhirnya menjadi alatnya untuk menyuarakan mimpi dan cita-citanya kepada dunia. Karena tulisannyalah ia jadi dikenal banyak orang, baik di bumi Hindia Belanda ataupun di Eropa. Dan lagi karena ia berasal dari keluarga bangsawan jawa yang terkenal ketat terhadap adat istiadatnyalah, “pemberontakan’nya serasa jadi sesuatu yang lebih istimewa. Mungkin karena itulah Kartini menjadi icon gerakan perjuangan kaum perempuan.Satu hal yang menarik dari tulisan-tulisan Kartini. Ternyata, memperjuangkan hak dan derajat kaum perempuan tidak berarti melepaskan kodrat sebagai seorang perempuan dan seorang ibu. Tidak seperti yang banyak digembar gemborkan para feminis zaman sekarang. Ketika atas nama kesetaraan hak dan emansipasi , mereka bisa dengan bebas melegalkan aborsi, free sex dan banyak pandangan semu serta salah kaprah lainnya. Dan satu hal yang paling penting:Walaupun Kartini punya mimpi yang besar, Kartini tetap menikah dan punya anak loch ^^Soal pendapat yang menyatakan kalau pernikahan buat perempuan adalah penjara dan sebagainya, itu kembali kepada pribadi dan nasib masing-masing. :D apakah kita akan mendapatkan pasangan hidup yang bisa menghargai dan menerima kita apa adanya? Apakah kita mendapatkan suami yang bisa sekaligus jadi sahabat, kekasih dan pembimbing? Bukan pernikahan yang salah, yang salah adalah pelakunya. Just Heaven Knows. Yang bisa kita lakukan hanya berusaha dan berdoa.Terlepas dari asal usul dan gelarnya. Sosok Kartini memang sudah istimewa. Walaupun akhirnya ia tak pernah bisa menamatkan mimpinya sekolah di negeri Belanda. Walaupun ia tidak bisa melihat pengaruh dari cita-citanya karena ia mati muda dalam usia 25 thn. Tetapi ia membuka jalan dan membawa pencerahan bagi kaumnya. Kartini bukanlah pendobrak. Tetapi Kartini membawa pelita dan membuka kesadaran kaumnya akan nasibnya. Membuat wanita berani berbicara, berani bermimpi. “Bermimpilah, karena tanpa itu, manusia akan mati”.===Note: Sekedar catatan, buku yang saya baca ini adalah terjemahan dari surat-surat Kartini kepada sahabat-sahabatnya yang ditulis dalam bahasa Belanda. Buku yang ada di tangan saya ini, adalah versi terjemahan ke bahasa melayu oleh Armijn pane. Itulah kenapa gaya bahasa yang digunakan terlihat begitu mendayu-dayu. Agak aneh dan membuat pusing sebenarnya. Karena jadi serasa membaca atau menonton film Malaysia :D Walaupun saya tetap dapat mengerti isi dan jalan ceritanya, ini membuat saya tidak memberi 5 bintang untuk buku ini. Jadi penasaran untuk baca versi yang lainnya. Adakah?

  • Lusia
    2019-05-08 03:13

    "Tahukah engkau semboyanku? Aku mau! Dua patah kata yang ringkas itu sudah beberapa kali mendukung membawa aku melintasi gunung keberatan dan kesusahan. Kata "aku tiada dapat!" melenyapkan rasa berani. Kalimat "aku mau!" membuat kita mudah mendaki puncak gunung.Sebelum baca buku ini, saya sempet mikir ngapain sih kita tiap 21 April kudu ngerayain hari kartini segala. Kayaknya biasa aja gitu, soal emansipasi itu. Ternyata pas baca buku ini baru ngerti, ternyata pemikiran beliau ini luar biasa sekali, melampaui zamannya deh. Yang bikin terpana lagi pemikiran akan kehidupan pada umumnya dan usahanya menyetarakan kaum wanita dan pria itu keluar dari dirinya seorang wanita jawa kuno, dipingit pula. Kagum deh. Walaupun ada yang bilang dia bukan pahlawan wanita sebenarnya dan usahanya belum cukup besar untuk jadi pahlawan, saya tetap kagum sama R. A. Kartini. "agama harus menjaga kita daripada berbuat dosa, tapi berapa banyaknya dosa diperbuat orang atas nama agama itu!"

  • Vanisa Andrikanisa
    2019-05-04 00:53

    Penulis : R.A Kartini Arjimin Pane (penerjemah)Genre : BiografiPenerbit : Balai PustakaTahun : 2005Halaman : IX, 204 halaman Habis Gelap Terbitlah Terang adalah buku kumpulan surat yang ditulis oleh Kartini. Kumpulan surat tersebut dibukukan oleh J.H. Abendanon dengan judul Door Duisternis Tot Licht. Setelah Kartini wafat, Mr. J.H. Abendanon mengumpulkan dan membukukan surat-surat yang pernah dikirimkan R.A Kartini pada teman-temannya di Eropa.Buku Habis Gelap Terbitlah Terang diterbitkan kembali dalam format yang berbeda dengan buku-buku terjemahan dari Door Duisternis Tot Licht. Buku terjemahan Armijn Pane ini dicetak sebanyak sebelas kali. Selain itu, surat-surat Kartini juga pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa dan bahasa Sunda. Armijn Pane menyajikan surat-surat Kartini dalam format berbeda dengan buku-buku sebelumnya. Ia membagi kumpulan surat-surat tersebut ke dalam lima bab pembahasan. Pembagian tersebut ia lakukan untuk menunjukkan adanya tahapan atau perubahan sikap dan pemikiran Kartini selama berkorespondensi. Pada buku versi baru tersebut, Armijn Pane juga menciutkan jumlah surat Kartini. Hanya terdapat 87 surat Kartini dalam "Habis Gelap Terbitlah Terang". Penyebab tidak dimuatnya keseluruhan surat yang ada dalam buku acuan Door Duisternis Tot Licht, adalah terdapat kemiripan pada beberapa surat. Alasan lain adalah untuk menjaga jalan cerita agar menjadi seperti roman. Menurut Armijn Pane, surat-surat Kartini dapat dibaca sebagai sebuah roman kehidupan perempuan. Ini pula yang menjadi salah satu penjelasan mengapa surat-surat tersebut ia bagi ke dalam lima bab pembahasan.

  • Satkar Ulama
    2019-05-18 04:12

    Buku ini saya baca di waktu saya masih kelas 6 SD. Saat itu peprustakaan di sekolah saya mengoleksi banyak sekali roman dan novel-novel sastra Indonesia. Dan saya menemukan buku ini. Dulu saya sama tidak memberanikan diri membaca buku dengan bahasa-bahasa berat dan hanya mampu dicerna oleh orang-orang dewasa. Maklum masih anak SD. Tapi ternyata bahasa yang digunakan dalam buku ini sangatlah ringan dan mudah dimengerti. Saya pun berasumsi bahwa Raden Ajeng Kartini adalah tipe perempuan cerdas yang mampu menunjukkan kecerdasannya tanpa harus berkomunikasi dengan kosakata sulit. Hal lain yang menarik dari buku ini adalah surat-surat cinta antara Kartini dengan lelaki-lelaki Belanda yang jatuh cinta padanya. Romantis, lucu, mengharukan, dan penuh inspirasi. Saya pun belajar kata-kata indah dari buku ini, di usia saya yang saat itu masih kanak-kanak :)

  • Florence Sihombing
    2019-04-24 22:20

    "Aku tiada hendak melihat, tetapi mataku tinggal terbeliak juga, dan pada kakiku ternganga jurang yang dalam sedalam-dalamnya, tetapi bila aku menengadah, melengkunglah langit yang hijau terang cuaca di atasku dan sinar matahari keemasan bercumbu-cumbuan, bersenda gurau dengan awan putih bagai kapas itu; maka dalam hatiku terbitlah cahaya terang kembali! (kepada Nona E.H. Zeehandelaar. Januari 12, 1900.)"Mungkin aku naif atau terlalu berani. Belum selesai aku membaca semua suratnya, aku akui, aku jatuh cinta pada Kartini.

  • kiki
    2019-05-15 20:11

    pertama kali, buku ini kubaca ketika kelas dua sma. kubaca sampai habis karna aku penasaran tentang keistimewaan kartini. dan ternyata.. terkandung sesuatu yang luar biasa..Kartini Ingin Menjadi Muslimah SejatiPada masa kecilnya, Kartini mempunyai pengalaman yang tidak menyenangkan ketika belajar mengaji (membaca Al-Quran). Ibu guru mengajinya memarahi beliau ketika Kartini menanyakan makna dari kata-kata Al-Quran yang diajarkan kepadanya untuk membacanya. Sejak saat itu timbullah penolakan pada diri Kartini."Mengenai agamaku Islam, Stella, aku harus menceritakan apa? Agama Islam melarang umatnya mendiskusikannya dengan umat agama lain. Lagi pula sebenarnya agamaku karena nenek moyangku Islam. Bagaimana aku dapat mencintai agamaku, kalau aku tidak mengerti, tidak boleh memahaminya? Al-Quran terlalu suci, tidak boleh diterjemahkan kedalam bahasa apa pun. Di sini tidak ada orang yang mengerti bahasa Arab. Di sini orang diajar membaca Al-Quran tetapi tidak mengerti apa yang dibacanya. Kupikir, pekerjaan orang gilakah, orang diajar membaca tapi tidak diajar makna yang dibacanya itu. Sama saja halnya seperti engkau mengajarkan aku buku bahasa Inggris, aku harus hafal kata demi kata, tetapi tidak satu patah kata pun yang kau jelaskan kepadaku apa artinya. Tidak jadi orang sholeh pun tidak apa-apa, asalkan jadi orang yang baik hati, bukankah begitu Stella?" [ Surat Kartini kepada Stella, 6 November 1899]"Dan waktu itu aku tidak mau lagi melakukan hal-hal yang tidak tahu apa perlunya dan apa manfaatnya. Aku tidak mau lagi membaca Al-Quran, belajar menghafal perumpamaan-perumpamaan dengan bahasa asing yang tidak aku mengerti artinya, dan jangan-jangan guru-guruku pun tidak mengerti artinya. Katakanlah kepadaku apa artinya, nanti aku akan mempelajari apa saja. Aku berdosa, kitab yang mulia itu terlalu suci sehingga kami tidak boleh mengerti apa artinya. [ Surat Kartini kepada E.E. Abendanon, 15 Agustus 1902]Sampai suatu ketika Kartini berkunjung ke rumah pamannya, seorang Bupati di Demak (Pangeran Ario Hadiningrat). Di Demak waktu itu sedang berlangsung pengajian bulanan khusus untuk anggota keluarga. Kartini ikut mendengarkan pengajian tersebut bersama para raden ayu yang lain, dari balik tabir. Kartini tertarik pada materi pengajian yang disampaikan Kyai Haji Mohammad Sholeh bin Umar, seorang ulama besar dari Darat, Semarang, yaitu tentang tafsir Al-Fatihah. Kyai Sholeh Darat ini - demikian ia dikenal - sering memberikan pengajian di berbagai kabupaten di sepanjang pesisir utara. Setelah selesai acara pengajian Kartini mendesak pamannya agar bersedia menemani dia untuk menemui Kyai Sholeh Darat. Inilah dialog antara Kartini dan Kyai Sholeh Darat, yang ditulis oleh Nyonya Fadhila Sholeh, cucu Kyai Sholeh Darat : "Kyai, perkenankanlah saya menanyakan, bagaimana hukumnya apabila seorang yang berilmu, namun menyembunyikan ilmunya?" Tertegun Kyai Sholeh Darat mendengar pertanyaan Kartini yang diajukan secara diplomatis itu. "Mengapa Raden Ajeng bertanya demikian?". Kyai Sholeh Darat balik bertanya, sambil berpikir kalau saja apa yang dimaksud oleh pertanyaan Kartini pernah terlintas dalam pikirannya. "Kyai, selama hidupku baru kali inilah aku sempat mengerti makna dan arti surat pertama, dan induk Al-Quran yang isinya begitu indah menggetarkan sanubariku. Maka bukan buatan rasa syukur hati aku kepada Allah, namun aku heran tak habis-habisnya, mengapa selama ini para ulama kita melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al-Quran dalam bahasa Jawa. Bukankah Al-Quran itu justru kitab pimpinan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?"Setelah pertemuannya dengan Kartini, Kyai Sholeh Darat tergugah untuk menterjemahkan Al-Quran ke dalam bahasa Jawa. Pada hari pernikahan Kartini, Kyai Sholeh Darat menghadiahkan kepadanya terjemahan Al-Quran (Faizhur Rohman Fit Tafsiril Quran), jilid pertama yang terdiri dari 13 juz, mulai dari surat Al-Fatihah sampai dengan surat Ibrahim. Mulailah Kartini mempelajari Islam dalam arti yang sesungguhnya. Tapi sayang tidak lama setelah itu Kyai Sholeh Darat meninggal dunia, sehingga Al-Quran tersebut belum selesai diterjemahkan seluruhnya ke dalam bahasa Jawa. Kalau saja Kartini sempat mempelajari keseluruhan ajaran Islam (Al-Quran) maka tidak mustahil ia akan menerapkan semaksimal mungkin semua hal yang dituntut Islam terhadap muslimahnya. Terbukti Kartini sangat berani untuk berbeda dengan tradisi adatnya yang sudah terlanjur mapan. Kartini juga memiliki modal kehanifan yang tinggi terhadap ajaran Islam. Bukankah pada mulanya beliau paling keras menentang poligami, tapi kemudian setelah mengenal Islam, beliau dapat menerimanya. Saat mempelajari Al-Islam lewat Al-Quran terjemahan berbahasa Jawa itu, Kartini menemukan dalam surat Al-Baqarah ayat 257 bahwa ALAH-lah yang telah membimbing orang-orang beriman dari gelap kepada cahaya (Minazh-Zhulumaati ilan Nuur). Rupanya, Kartini terkesan dengan kata-kata Minazh-Zhulumaati ilan Nuur yang berarti dari gelap kepada cahaya. Karena Kartini merasakan sendiri proses perubahan dirinya, dari pemikiran tak-berketentuan kepada pemikiran hidayah. Dalam banyak suratnya sebelum wafat, Kartini banyak sekali mengulang-ulang kalimat "Dari Gelap Kepada Cahaya" ini. Karena Kartini selalu menulis suratnya dalam bahasa Belanda, maka kata-kata ini dia terjemahkan dengan "Door Duisternis Tot Licht". Karena seringnya kata-kata tersebut muncul dalam surat- surat Kartini, maka Mr. Abendanon yang mengumpulkan surat-surat Kartini menjadikan kata-kata tersebut sebagai judul dari kumpulan surat Kartini . Tentu saja ia tidak menyadari bahwa kata-kata tersebut sebenarnya dipetik dari Al-Quran. Kemudian untuk masa-masa selanjutnya setelah Kartini meninggal, kata-kata Door Duisternis Tot Licht telah kehilangan maknanya, karena diterjemahkan oleh Armijn Pane dengan istilah "Habis Gelap Terbitlah Terang". Memang lebih puitis, tapi justru tidak persis. Setelah Kartini mengenal Islam sikapnya terhadap Barat mulai berubah :"Sudah lewat masanya, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami, tetapi apakah ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa dibalik hal yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut sebagai peradaban?" [Surat Kartini kepada Ny. Abendanon, 27 Oktober 1902]Kartini juga menentang semua praktek kristenisasi di Hindia Belanda :"Bagaimana pendapatmu tentang Zending, jika bermaksud berbuat baik kepada rakyat Jawa semata-mata atas dasar cinta kasih, bukan dalam rangka kristenisasi? .... Bagi orang Islam, melepaskan keyakinan sendiri untuk memeluk agama lain, merupakan dosa yang sebesar-besarnya. Pendek kata, boleh melakukan Zending, tetapi jangan mengkristenkan orang. Mungkinkah itu dilakukan?" [ Surat Kartini kepada E.E . Abendanon, 31 Januari 1903]Bahkan Kartini bertekad untuk memenuhi panggilan surat Al-Baqarah ayat 193, berupaya untuk memperbaiki citra Islam selalu dijadikan bulan-bulanan dan sasaran fitnah. Dengan bahasa halus Kartini menyatakan : "Moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat umat agama lain memandang agama Islam patut disukai." [ Surat Kartini kepada Ny. Van Kol, 21 Juli 1902]

  • Niken Anggrek
    2019-04-23 02:04

    Genius. Habis Gelap Terbitlah Terang yang disusun oleh Armijn Pane itu menggambarkan dengan gamblang pemikiran-pemikiran Kartini yang melapaui anak-anak di jamannya. Meski usianya tergolong singkat (21 April 1879-13 September 1904), ia sudah melahirkan gagasan-gagasan dan pandangan-pandangan luar biasa tentang peran wanita, kemanusiaan, agama, serta pikiran kemajuan lainnya untuk mewujudkan kaum perempuan yang terdidik. Lepas dari keotentikan, dan bahasa yang jadul, serta banyak 'kembangnya', buku ini wajib dibaca untuk mengenal siapa Kartini, dan mengapa ia layak menjadi pahlawan. Dan terutama, agar kita bisa lebih menghayati ketika menyanyikan lagu Ibu Kita Kartini :D

  • Kristy
    2019-05-03 01:08

    Beautiful book! My friend recommended I read this while I visited her in Indonesia. It was an incredible experience to learn about a culture through their literature while simultaneously vacationing in that country. It tells the story of a very forward thinking woman in a time where it was not so common..I don't want to give anything away!

  • Fifi Hasyim
    2019-05-14 03:11

    meski Kartini tidak mewakili seluruh perempuan Indonesia,, tapi dia berjasa, setidaknya untuk masyarakat Jawa..

  • Missy J
    2019-05-21 00:19

    This book is a collection of letters that Kartini (1879-1904) wrote during the last 5 years of her life. For those of you who don't know Kartini, she is a national hero in Indonesia (her birthday is celebrated each year) for her pioneering work in the education of Javanese women. Unfortunately, she died at the very young age of 25 after giving birth to her first born child. The original letters by Kartini were written in Dutch, so I'm not sure how accurate the English translation is, however the way she writes is beautiful and extremely thoughtful. I was in particularly impressed that a woman at the turn of the 20th century, in the Dutch East Indies, who through the means of a little education could have the same thoughts like women nowadays! For instance, she complains about polygamy, the pressure to get married (which in fact hasn't changed in Indonesia till 2014), being torn between filial piety towards her parents (esp. her father) and what she wants in life (education, to open a school for native official's daughters)... Slowly, the reader can see how Kartini's thoughts and opinions change. She becomes a bit more spiritual in that her belief in God becomes stronger. This in turn improves her relationship with her mother (who may not be her birth mother, but one of the wives of her father). She first gives up studying in Holland and then sacrifices the opportunity to study in Batavia in order to marry a man (who already has 3 wives) her father chose for her. Maybe she did it because her father was very sick for a long time and sad whenever Kartini spoke about pursuing education elsewhere. Maybe she felt pressured after her younger sister married the year before. Either way, Kartini seemed happy towards the end, to becoming a mother and having a husband who actually shared the same beliefs she had about women's emancipation. Such a loss that she died so young. I really wonder what kind of letters Kartini would've written about the independence movement in Indonesia, maybe even about the Suharto dictatorship, the lack of female Indonesian politicians and how to this very day, gender inequality is still somewhat felt, not just in Indonesia (where polygamy is still tolerated) but in most places around the world. Do you remember the cool, bright tropical evenings, when everything was quiet, and the stillness was only broken by the rustling of the wind through the tops of the cocoanut trees?"But I can see no other way. Christianity alone does not bring one happiness; only the personal love of God does that, of which Christianity is the symbol." (Kartini quoting a ltter from Dr. Adriani to Mevrouw Abendanon-Mandri regarding religion)

  • Willy Akhdes
    2019-04-23 01:11

    Surat-surat R.A Kartini kepada teman-temannya di Eropa telah membuka mata Eropa, khususnya Belanda, akan keadaan sebenarnya negeri Hindia Belanda. Banyak peristiwa tonggak sejarah yang terlahir setelah terbitnya buku ini. Keluarga Abendanon dan Van Deventer semakin gencar mengobarkan politik etis di Hindia. Pada 1911, enam tahun setelah R.A Kartini meninggal, Van Deventer mendirikan Kartini School guna meneruskan perjuangan R.A Kartini. Tulisan R.A Kartini dalam surat-suratnya ini disebut sebagai pemikiran yang jauh melampaui zaman, juga usianya yang masih muda.

  • Margaret
    2019-05-07 22:18

    I've finally started this book and I'm finding it very interesting but I find that to maintain focus I can only read a couple of letters at a time, so this will be slow-going. It's definitely an education for me as I know next to nothing about Java during the turn of the century (early 1900s) and I'm always interested in the role of women in a society. I'll journal again when I'm closer to finishing it. :) Took me forever to finish this book - not because it wasn't interesting but I found I appreciated it more by reading it in small time slots, and not every day. It really was interesting, but you had to be in the mood for it. By the end, I really felt a lot of compassion for this woman and I wonder what her life would have been like if she had been born a little later. It's sad that she died so young.

  • R. Sanyoto
    2019-05-13 19:54

    <<< seakan-akan kami berjanji dengan nyonya, kamipun berpakaian biru - biru warna tanda setia ! setia, ialah kata bersahaja, tetapi alangkah besar dan dalam maksudnya ! lebih daripada cinta >>>

  • FitriPakpahan
    2019-04-28 23:21

    Belum selesai saya membaca buku ini dan pastinya! akan saya selesaikan. Saya hanya ingin berlama-lama dengan tulisan dan pemikiran beliau- yang rasanya tiada matinya. dan saya hanya ingin menjaga, menghayati, merenungkan, memikirkan dan memikirkan lagi tentang penderitaan, pemikiran dan perjuangan beliau. Sungguh! beliau adalah Kartini yang berhati mulia (ah, ibu Kartini betapa engkau membenci pujian) dan terlalu banyak pujian yang ingin kulontarkan, namun karena kau tidak suka lebih baik aku simpan saja.terkadang aku hanya bertanya-tanya, apakah sudah takdir perempuan yang sering mendapatkan ketidakadilan? mungkinkah memang sudah begitu adanya bahwa Hawa adalah perempuan yang menggoda Adam, sehingga mereka jatuh ke dalam dosa? seperti kata ayahku, bahwa perempualah yang cenderung pertama membuat dosa? mungkin gara-gara itukah penderitaan perempuan cenderung lebih sakit? atau aku saja yang terlalu sentimen dan mengada-ada? Cita-citamu begitu tulus dan menginspirasi - untuk mengajarkan pada wanita bertindak dengan pemikiran yang cerdas dan berhati bangsawan - seperti dirimu.

  • Reza Pratama Nugraha
    2019-05-06 20:00

    Baca lewat audiobook (diunduh dari wordpress yang dimiliki sekaligus dinarasikan Elle March). Yang pertama saya tangkap setelah membaca (atau lebih tepatnya mendengar kali yah), adalah ungkapan pikiran Kartini walau personal dan subjektif, mampu meninggalkan kesan yang begitu kuat dan juga begitu ekspresif (atau kalau gaulnya, begitu quoteable), berputar melalui banyak topik mengenai penindasan budaya dan laki-laki, agama, semangat, optimisme, cita-citanya dan mimpinya yang jelas sangat maju, modern, tapi juga merupakan suatu kesadaran akan kenyataan yang pahit untuk perempuan pada masa tersebut. Banyak suatu pembahasan di sosial media yang mempertanyakan Kartini sebagai tokoh bangsa, dan saya pikir mereka semua harus membaca ini. Habis Gelap Terbitlah Terang jelas adalah suatu bacaa yangn wajib, yang bukan hanya wanita, tapi laki-laki juga. Saya pikir topik mengenai emansipasi masihlah relevan hingga saat ini, dan buku ini masih mampu mencerahkan pemikiran pembacanya. Jelas bahwa pemikiran Kartini belum redup walau sudah seratus tahun lebih lamanya.

  • Claudia Sutrisno
    2019-04-23 22:19

    Decided to finally read this in response to this year's Kartini's Day (but ironically finishing this some few days ago. I feel super redundant, yeah).I would totally her best friend for sure. Imagine all those possibilities of talking about so many social issues with her.Another reasons why I should keep records of thoughts.

  • Kultsum
    2019-04-20 04:21

    i have to read this book

  • Jessica Rosa Dewi
    2019-05-08 03:59

    What a beautiful book.Membaca buku ini memang adanya membaca diari Ibu Kartini.I can see myself reach out this book if I ever lost any motivation. Terima kasih Ibu.

  • Rizky Firmansyah
    2019-04-30 02:11

    Membaca buku ini akan mengembarakan pada kedalaman ruang pikir dan rasa seorang almarhumah Kartini terhadap kehidupan. Banyak pemikirannya yang tidak sejalan dengan mayoritas masyarakat pada umumnya. Mulai dari menggugat adat istiadat yang merendahkan manusia, diskriminasi kaum perempuan, hingga pertentangan-pertentangan batin dirinya sendiri.Sangat menarik membaca surat-surat pribadinya dengan Nyonya Abendanon, hubungan yang sangat intim hingga almarhumah Kartini memanggil beliau dengan panggilan Ibu.Contohnya pada percakapan pada halaman 92-93:"Jalan kepada Allah dan jalan kepada padang kemerdekaan hanyalah satu. Siapa yang sesungguhnya jadi hamba Allah, sekali-kali tiada terikat kepada manusia, sebenar-benarnya merdekalah dia. Dalam beberapa hari ini ada yang menimpa diri kami. Bila hal itu kejadian sebelum ada perubahan di dalam dunia rohani kami ini, tentulah kami akan menjadi berputus asa. Tetapi sekarang kami berpegang teguh pada tangannya, mata kami dengan tiada putus-putusnya kami tujukan kepada Dia-Dia akan mengemudikan kami menimbang-dengan kasih sayangnya...Dan lihatlah, gelap menjadi terang, angin ribut menjadi angin sepoi-sepoi. Semuanya yang ada di sekeliling kami tetap seperti sediakala, memang tidak berubah, tetapi bagi kami sudah berubah. Yang berubah itu sebenarnya di dalam diri kami, maka disinarinyalah segala yang ada dengan cahaya-Nya. Alangkah tenang dan damainya di dalam rohani kami... Ibuku sayang, kami sangat berbahagia. Bukan bahagia yang bergetar, riang gembira-melainkan rasa bahagia yang tenang, damai, mesra."Lalu pada surat halaman 167:"Ada cahaya menembus, sampai kepada kami. Cahaya murni, kudus. Seolah-olah kami mendapat sempena! Kami tiada merasa takut, tiada merasa gentar lagi, telah damai hati kami, kami telah percaya. Aduhai! Alangkah dinanya kami, alangkah rendahnya! Besar harapan kami, moga-moga datang juga ketikanya, kami hidup bukan untuk keperluan kami saja, melainkan untuk semangat di dalam hati kami. Bukan bahagia yang riang gembira, yang terasa mengharu-biru, hidup di dalam diri kami, melainkan sukacita kesyukuran, karena kami telah mendapat; setelah melalui kebimbangan yang tidak putus-putusnya. kehilangan percaya, dan setelah menempuh kesukaran dunia, kami pun tibalah di tempat yang dituju. Tiada dapat saya lukiskan perasaan jiwa kami berdua, pada masa ini, tiadalah terlukiskan rasa itu, harus dirasakan.Yang dapat saya katakan, ialah bahwa kami sangatlah berbahagia oleh karena itu, hingga kami menjadi lebih bagus rupanya dan usaha cita-cita kami lebih murni adanya. Pada waktu kemudian ini amatlah jauhnya kami cari Cahaya itu, padahal sangat dekat letaknya, senantiasa bersama-sama kami, di dalam diri kami!Sekarang lebih kokoh terasa oleh kami badan kami, dan segala sesuatu tampak oleh kami dengan cahaya yang sangat berlainan dengan dahulu. Sudah lama ia berdaya upaya, tumbuh dalam ruh kami; kami yang tiada tahu rupanya, dan Nyonya van Kol yang meyibakkan tabir yang tergantung di hadapan kami. O! Sangatlah terima kasih kami kepadanya, lebih lagi daripada segala yang lain-lain yang telah diperbuatnya untuk kami dan yang akan diperbuatnya lagi.Sebelum saya menerima surat, Ibu bertanya kepada saya, "Siapakah yang menjadikan engkau bercita-cita demikian itu?" dan pada ketika itu telah saya jawab begini, "Petunjuk Tuhanlah itu."dan banyak lagi cuplikan-cuplikan surat yang menyatakan makna esensial dari buku ini, Habis Gelap Terbitlah Terang.

  • Fitri Fatimatuz zahrok
    2019-04-29 22:19

    Judul Buku :Habis Gelap Terbitlah TerangPengarang :Armijn PanePenerbit :Balai PustakaJumlah Halaman :1 sampai 204Nama Tokoh :R.A Kartin Buku ini menceritakan tentang perjuangan R.A Kartini untuk dapat bersekolah,dimasa sekolahnya R.A Kartini merasa bebas,namun ketika R.A Kartini berumur dua belas tahun kartini di pingit dan tidak diizinkan keluar.Sahabat kartini tiada hentinya berihtiar,supaya kartini diberi kemerdekaanya kembali.Ketika kartini berumur enam belas tahun pada tahun 1895,bolehlah kartini melihat dunia luar lagi.Kartini anak yang suka belajar ,dan dia tahu masih banyak pengetahuan yang dapat dipelajari.Pada waktu itu dicita-cita kanya hendak pergi ke betawi hendak sekolah dokter ,namun setelah bertemu dengan Mr.Abendanon,hendak pula masuk sekolah guru di betawi supaya dapat menjadi guru di sekolah anak gadis yang akan didirikanya nanti.ada tahun 1902 kartini berkenalan dengan Tuan Van Kol dan ayahnya yang sangat setuju dengan cita-cita kartini yang hendak pegi ke Belanda untuk belajar.Pada pangkal tahun 1902,adik kartini yang bernama kardinah menikah ,hal itu sangat melemahkan hati kartini.Namun kartini terus bersabar dan kartini ebih bersemangat untuk menuntut ilmu untuk mewujudka cita-citanya. Dalam buku ini terdapat banyak kelebihan diantaranya,didalam buku ini berisi perjuangan seorang gadis yang berjuang untuk dapat bersekolah,sehingga dengan membaca buku ini kita dapat mempelajari dan meneladani sifat dari tokoh ini.Di dalam buku ini dilengkapi dengan gambar,sehingga pembaca tidak bosan untuk membacannya.Kelebihan yang tampak pada buku ini terdapat pada cerita yang menarik sehingga,sehingga pembaca tertarik untuk membacannya.Sampul buku ini sangat menarik dan gaya bahasa yang digunakan mudah difahami ,sehingga pembaca tidak kesulitan untuk memahami cerita dari buku ini.Di dalam buku ini terdapat kisah yang dapat dijadikan teladan dan semangat untuk meraih cita-cita setinggi mungkin. Setiap buku pasti memliki kelebihan dan kelemahannya.Begitu puia dngan buku ini yang memiliki kekurangan.Kekurangan buku ini terdapat pada cerita yang di ulang-ulang.Kelemahan lain yang terdapat pada buku ini terletak pada gambar yang disajikan kurang menarik karena gambar tidak berwarna,sehingga pembaca kurang tertarik untuk mengamati gambar yang disajikan di dalam buku ini.Namun,kekurangan dari buku ini dapat tertutupi dengan banyak kelebihan yang dimiliki buku ini,sehingga kekurangan buku ini tidak nampak jelas.Didalam buku ini disajikan berbagai macam perjuangan dari R.A Kartini,sehingga kita dapat menerapkan perjuangan dan kerja keras R.A Kartini pada kehidupan kita,sehingga kita dapat mengenang jasa-jasa R.A Kartini dalam kehidupan sehari-hari.

  • Naafth Hans
    2019-05-11 02:03

    Judul buku :Habis gelap terbitlah terangPengarang :Armijn PanePenerbit :Balai PustakaJumlah halaman:1 sampai 204Nama tokoh :R.A KartiniTebal buku :2cm Melalui buku ini kita dapat mengetahui perjuangan R.A Kartini yang memiliki fisi dan misi untuk meningkatkan martabat kaun wanita. Melalui buku ini kita dapat mempelajari perjalanan hidup R.A Kartini. Perjalanan hidup nya hingga sukses melalui berbagai rintangan. R.A Kartini seorang anak yang suka belajar,dia tahu masih banyak pengetahuan yang dapat di pelajari. R.A Kartini bercita-cita hendak pergi ke negeri belanda kemudian jika tidak dapat, ia hendak ke betawi sekolah dokter, setelah bertemu dengan Mr Abendanon,hendak pula masuk sekolah guru di betawi supaya dapat menjadi guru di sekolah anak gadis yang akan didiriknnya nanti. Kelebihan dari buku ini adalah memberi pengetahuan tentang berbagai macam usaha yang dilakukan oleh R.A Kartini untuk membela kaum perempuan.Sehingga buku ini dapat di gunakan sebagai bahan referensi baupun motifasi bagi kaum perempuan untuk selalu mengingat dan mengenang perjuangan R.A Kartini.Perjuangan R.A Kartini biasa di peringati pada tanggal 21 April ,maka dengan membaca buku ini maka kita akan mengetahui pejuang kaum perempuan ini.Sampul buku ini memiliki daya tarik tersendiri,sehingga kita akan tertarik untuk membacanya.Bahasa yang digunakan pada buku ini sangat mudah difahami dan di dalam buku ini dilengkapi gambar,sehingga pembaca tidak jenuh untuk membaca buku ini. Setiap buku selalu memiliki kelemahan maupun kelebihanya.Begitu juga dengan buku ini ,kelemahan yang timbul dalam buku ini hanya terdapat gambar yang di tampilkan kurang menarik. Karena gambr pada isi buku ini tidak berwarna, sehingga pembaca belum merasa puas dengan cerita yang bagus,namun gambar kurang nyata karena tidak berwarna.Namun kekurangan yang ada di buku ini dapat tertutupi dengan cerita yang menarik dan sampul buku yang pas dan menarik.Segingga kekurangan buku ini dapat tertutupi dengan banyak kelebihan yang ditimbulkan dari buku ini.

  • Truly
    2019-05-07 00:18

    http://trulyrudiono.blogspot.co.id/20...Buku pertama yang saya baca adalah Habis Gelap Terbitlah Terang terbitan P.N Balai Pustaka tahun 1963 terjemahan Armijn Pane. Buku ini saya temukan secara tidak sengaja di lapak buku bekas. Untuk membawa pulang juga tidak perlu biaya mahal. padahal makna sejarahnya lumayan juga. Oh ya, alasan pertama membawa buku ini selain memang saya belum punya buku dengan judul ini, adalah soal kovernya yang agak berbeda dengan kover buku tentang Kartini yang selama ini saya temui. Dengan posisi tangan seakan menopong dahu, posisi yang sering dilakukan saat seseorang berpikir, membuat buku ini menjadi berbeda. Ditambah warna biru yang menjadi latar. Saya menangkap kesan bahwa ini adalah buku tentang pemikiran hebat seorang wanita.Secara garis besar, buku ini terbagi menjadi tiga bagian Dirudung tjita-tjita, dihambat sayang; Batu alangan hampir terguling banjak berubah dalam rohani; Batu besar penghalang djalan telah terguling, kami telah berubah didjiwa kami; Lama dirindukan dapat dilepaskan; Disamping laki-laki, disitu makbul tjita-tjita. Tiap bagian terdiri dari beberapa bagian yang berisikan surat-surat Kartini.Membaca buku ini butuh perjuangan lebih. Selain harus menahan debu mengingat usia buku, saya harus berusaha menahan emosi saat membaca terjemahan yang ada. Bukan, bukan terjamahan yang kurang enak dibaca tapi emosi yang terkandung dalam surat-surat tersebut sungguh luar biasa. Seakan tak percaya pemikiran seperti itu berasal dari seorang wanita belia. Penulisan dengan gaya bahasa serta ejaan lama sama sekali tidak mempengaruhi kenikmatan saya membaca. Terdapat juga penjelasan mengenai mengapa buku ini tidak setebal cetakan terdahulu. Sungguh niat yang mulia. Tapi hendaknja djanganlah setebal dahulu supaya djangan terlalu mahal. Djika mahal belinja tiadalah atau susahlah tjita-tjita R.A Kartini itu tersiar banjak-banjak (kata Pendahuluan).

  • Farel Ashigawa
    2019-04-21 02:08

    Kartini adalah seorang salh satu wanita yang memperjuangkan kemajuan akan wanita.Dia bagaiokan salah satu panutan yang harus kita contoh dari semngatnya yang begitu membara membela kaum wanita.Dia adalah seorang wanita bangsawan yang hidupnya selalu diatur oleh ayahnya yang seorang bupati saat itu.Dalam hal perjodohan saja,ia harus dipilihkan dan dipingit dalam kamarnya.Dalam hal sekolah,dia harus sekolah dalam rumahnya sendiri tanpa sedikitpun mengenal keadaan dunia luar.Karena dia begitu merasakan kesepian di dalam kamarnya,ia sering menulis surat pada saudari-saudarinya.Surat itu berisikan impiannya untuk memajukan dan mengangkat derajat kaum wanita yang memang saat itu wanita benar-benar rendah di mata kaum lelaki.Harapannya begitu tinggi sehingga dia setelah menikah,dia sangat begitu senang dan selalu aktif dalam hal-hal yang berbau wanita.Dia akhirnya menulis sebuah buku "Habis Gelap Terbitlah Terang".Buku ini menceritakan bagaimana perjuangan Kartini dan wanita-wanita pada zaman itu dari masa yang gelap menuju jaman yang terang yaitu zaman yang sekarang menyetarakan antara kaum wanita dan kaum pria sehingga tidaka akan ada lagi wanita yang tertindas oleh para kaum lelaki dan bisa bekerja layaknya kaum lelaki.Itulah sebuah semangat yang begiotu membara dari sang ibu perjuangan emansipasi wanita kita,"Kartini".

  • Lilia Zuhara
    2019-04-25 03:22

    Buku ini berisi kumpulan surat yang ditulis Kartini kepada teman-temannya. Dari surat-surat itu, Kita diajak untuk mengeksplorasi pemikiran Kartini.Pemikiran Kartini (yang tertuang dalam surat-suratnya) cenderung sama dengan sebagian wanita modern pada umumnya. Namun pemikiran tersebut menjadi tidak biasa ketika tercetus pada seorang wanita yang lahir di tanah terjajah pada abad 19. Kartini memiliki pemikiran yang progresif dan tidak mau tunduk oleh budaya yang dianggapnya tidak rasional. Bahkan ada beberapa suratnya yang menggambarkan pertanyaannya tentang agama yang tidak berfungsi seperti yang digambarkan oleh manusia. Namun, sebagai seorang wanita, Ia tetap tunduk pada naluri alamiahnya. Pertentangan antara dua sisi Kartini itulah yang Saya tangkap kuat dalam kumpulan surat ini.Dari segi teknis, redaksi tulisan Kartini sedikit menyulitkan karena penggunaan tata bahasa yang cukup klasik dan halus. Penggunana gaya bahasa seperti ini terkadang menyulitkan dalam penangkapan suasana hati sang penulis (yaitu Kartini tentunya). Namun secara umum, seperti tulisan yang dibuat oleh orang Indonesia yang hidup di masa penjajahan, buku ini membangkitkan semangat dan memacu pemikiran menjadi lebih progresif, terutama untuk kaum wanita.

  • Ayu Windyaningrum
    2019-05-08 01:07

    Baca buku ini, harus dengan setting pikiran yg disesuaikan pada tahun 1800an akhir-1900an awal.Ini buku yg luar biasa. Masuk ke dalam pikiran Kartini sebagai wanita yg hidup pada zaman itu...sungguh pikiran2 yg luar biasa. Sementara wanita2 Bumiputra lainnya hanya berpikiran mengenai masalah domestik, Kartini berpikir luas, dan bercita-cita yg paling tinggi (walaupun kiblatnya masih ke negeri Belanda). Saat itu, dengan kondisi seperti itu, hal tersebut adalah sebuah pikiran yg berani dan tidak biasa.Dulu saya selalu berpikir: apa yg begitu hebat dari seorang Kartini, seorang pionir dalam emansipasi wanita?Jawabannya adalah: Pendidikan.Dasar-dari segala dasar untuk bisa survive dlm hidup, mencapai keadaan perempuan seperti sekarang.Tanpa beliau, perempuan Indonesia tidak akan pernah bisa mendapatkan pendidikan formal.Rasanya saya berhutang keadaan saya saat ini kepadanya.

  • Oov Auliansyah
    2019-04-19 20:23

    Kartini adalah obor pergerakan untuk melawan feodalisme, lewat tulisan surat-suratnya kartini melawan dunia. Dia bersikeras ingin untuk sekolah (pada masa itu wanita dianggap tidak harus sekolah), Bagaimana dia menghadapi pandangan-pandangan sinis dari temen-teman Belanda di sekolahnya dan perlakuan-perlakuan diskriminasi karena dia bukan orang Barat. Dan surat-surat dibagian awal Kartini menuliskan sikap skeptis dia dengan agama, dia melihat orang-orang beragama banyak yang berbuat jahat. Dan ada yang menurut dia salah tapi bagi agama Islam tidak. Bagi kartini agama adalah cinta dan batin bukan label. "tolong menolong dan cinta mencintai , itulah nada dasar segala agama. Agama yang sesungguhnya adalah kebatinan dan agama itu bisa dipeluk baik sebagai Nasrani maupun Islam"

  • Nick Doren
    2019-05-02 21:17

    Sungguh tak terbayangkan andaikata orang seperti Raden Ajeng Kartini tidak dilahirkan di bumi Indonesia. Indonesia pada masa Kartini adalah Indonesia yang "memperbudak" perempuan. Mengutip ungkapan Plato (filsuf Yunani), "Perempuan adalah setengah laki-laki"; mungkin demikanlah pendahulu kita di masa Kartini memandang perempuan.Di masa kini, derajat kaum perempuan Indonesia dihargai sama dan sederajat dengan kaum laki-laki. Terkait dengan "sama dan sederajat" ini, kita bisa melihatnya dari rumusan perubahan UU Perkawinan no.1 tahun 1974, yang tidak lagi memandang laki-laki sebagai Kepala Keluarga dan Perempuan Sebagai Ibu Rumah Tangga, melainkan mengedepankan "kemitraan" dalam pola relasi antara laki-laki dan perempuan. Terima kasih ibu Karini.

  • Abieffendi
    2019-05-09 02:14

    dari segi informasi, pastinya oke banget. Trutama karena saya bisa mengerti bagaimana dan kenapa Kartini diagungkan menjadi salah satu pejuang emansipasi wanita Indonesia.Dari segi tata-bahasa, indah sekali seperti puisi tulisan-tulisan surat Kartini kepada kawan-kawan Belanda-nya. Namun perlu diingat, sesuai dengan yg ditulis pada kata pengantar, bahwa surat2 Kartini ditulis dalam bahasa Belanda. Surat2 yg ada di buku ini adalah hasil translasi Armin Pane. Kalau translasi itu indah, ya itu karya Armin Pane. Namun untuk kemampuan tata-bahasa Kartini sendiri, entah.Sebagai orang Indonesia, tentu sebenarnya wajiblah membaca buku ini. Tapi peduli apa orang Indonesia, mereka dalam kepicikannya hanya peduli dirinya sendiri...

  • Amy
    2019-05-16 20:54

    I read this in college (about 20 years now), in a History of SE. Asia class. I need to reread it, but I will write this from my original impression. I remember loving it. I found the author of the letters so vibrant and sympathetic. She had ambitions and challenges that, despite the differences in culture and time, I felt a relation to. Her journey took a bit of of different, more traditional, trajectory in the end. I can't deny that I was a bit disappointed in that. Now that I have had a few years on me, and I have made my own compromises, I would like to read this book with new eyes.

  • Tina Amelia
    2019-05-20 20:21

    mengesankan.. sang pelopor emansipasi wanita.. bagi sayasebagai seorang wanita, emansipasi memang sangat diperlukan dalam bidang pendidikan, mendapat kesempatan yang sama dalam pemerintahan, dan sebagainya.. namun pemaknaan emansipasi yang kii kehilangan batasnya juga perlu diperbaiki, sebab kita tetap juga harus mengingat kodrat kita sebagai seorang perempuan. memaknai hari kartini dengan menjadi seorang ibu yang baik dan seorang ibu yang mampu melahirkan calon-calon pemimpin yang baik di masa yang akan datang juga bagi saya salah satu bentuk emansipasi..